Cerita panas terbaru tipu gadis polos

Cerita panas terbaru tipu gadis polosby masbroon.Cerita panas terbaru tipu gadis polosCerita panas terbaru tipu gadis polos – Rini tak bisa menolak ajakan teman yang ia sukai itu. 2 tahun sudah mereka saling mengenal, sejak keduanya sama-sama duduk di bangku kelas satu SMA. Dan perasaan suka itu muncul di hati Rini tak lama setelah pertemuan pertamanya. Kalau tidak karena Abdul memberi sinyal yang sama, Rini tentu sudah […]

Cerita panas terbaru tipu gadis polos – Rini tak bisa menolak ajakan teman yang ia sukai itu. 2 tahun sudah mereka saling mengenal, sejak keduanya sama-sama duduk di bangku kelas satu SMA. Dan perasaan suka itu muncul di hati Rini tak lama setelah pertemuan pertamanya. Kalau tidak karena Abdul memberi sinyal yang sama, Rini tentu sudah melupakan perasaannya.

Tapi cowok itu terus saja bersikap spesial kepadanya, hingga cinta jarak jauh mereka terjalin erat meski tanpa kontak fisik. Lalu tiga bulan yang lalu saat menjelang Ujian Akhir Sekolah. Kelas pria dan wanita yang biasanya terpisah mulai digabung di beberapa kesempatan karena alasan peningkatan intensitas pelajaran. Siswa putra duduk di barisan depan, sedang yang putri di bagian belakang. Tapi Abdul duduk di barisan putra paling belakang sedangkan Rini di barisan putri paling depan. Maka tak ayal Abdul berada tepat di depan Rini.

wajah bening hot

wajah bening hot

Dan itulah awal kontak terdekat yang terjadi pada mereka. Biasalah… Awalnya pura-pura pinjam alat tulis, tanya buku, ini… itu… Tapi senyuman makin sering tertukar dan kontak batin terjalin dengan pasti. Kadang ada alasan bagi keduanya untuk tidak keluar buru-buru saat istirahat, hingga ada masa singkat ketika mereka hanya berdua di dalam kelas, tanya-tanya pelajaran-alasan basi yang paling disukai setiap orang.

Dua bulan lebih dari cukup untuk memupuk rasa cinta. Meski pacaran adalah terlarang, dan keduanya belum pernah saling mengutarakan cinta, tapi semua teman mereka tahu keduanya adalah sepasang kekasih. Hubungan cinta yang unik di jaman yang serba bebas ini. Dan Rini begitu menikmati perasaannya. Setiap waktu teramat berharga. Sekilas tatapan serta seulas senyuman selalu menjadi bagian yang menyenangkan.

Lalu cinta mulai berkembang saat kenakalan muncul perlahan-lahan. Rini sempat ragu saat Abdul memintanya untuk datang ke Mall sepulang sekolah sore itu. Sejuta perasaan bahagia membuncah di hati Rini, bercampur dengan rasa takut dan kegugupan yang luar biasa. Ia nyaris pulang lagi saat sore itu ia berdiri di pintu Mall untuk bertemu dengan Abdul.

Tapi cowok itu keburu melihatnya hingga ia tak dapat menghindar lagi. Ia tahu bahwa dirinya salah tingkah selama kencan pertama mereka. Malamnya Rini tak bisa tidur. Membayangkan tentang betapa menyenangkannya kencan mereka, saat untuk pertama kalinya Abdul menggenggam tangannya selama berkeliling melihat-lihat banyak hal.

Seluruh tubuhnya terasa panas dingin. Abdul bahkan membelikan sebuah hadiah berupa kalung mutiara asli yang sangat mahal untuk ukuran dirinya. Untaian mutiara itu sangat indah, putih memancarkan kilau yang terang.

“Walaupun aku tak akan dapat melihatmu mengenakan kalung itu, kuharap kamu mau tetap mengenakannya.” Dan tentu saja ia senantiasa mengenakan kalung mutiara itu.

Satu bulan itu dihiasi dengan kencan sembunyi-sembunyi yang sangat mendebarkan. Seperti bermain kucing-kucingan dengan semua orang yang Rini kenal. Kalau ada satu saja orang yang tahu Rini berduaan dengan seorang pria di Mall, maka Rini tak dapat membayangkan petaka apa yang akan menimpanya.

Tapi berhenti dari melakukan itu ia yakini lebih mengerikan daripada terus menjalaninya. Karena, di sore itu, di satu sudut yang sepi di dalam Mall, tiba-tiba saja Abdul mencium pipinya dengan cepat tanpa mengatakan apapun juga. Hanya sekilas, dan Abdul membuat seolah-olah itu tak pernah terjadi. Tapi pengaruhnya sangat besar pada diri Rini. Karena seluruh perasaannya bergemuruh dan membuncah. Bercampur aduk hingga ia hanya bisa diam saja seperti orang bodoh.

Sisa sore itu berlalu tanpa ada dialog apapun, karena Rini tahu wajah putihnya telah berubah semerah kepiting rebus. Meninggalkan kesan terindah yang terbawa ke dalam mimpi bermalam-malam sesudahnya. Tiga hari sejak peristiwa itu Rini selalu berusaha menghindar dari Abdul. Ia merasa malu, bingung dan takut. Bagaimanapun juga satu sisi perasaannya masih memiliki keyakinan bahwa cinta mereka mulai melewati batas.

Cerita Dewasa

Tapi ia belum tahu cara kerja nafsu. Karena ketika akhirnya mereka bertemu kembali, Rini tak bisa menolak saat di banyak kesempatan Abdul mencium pipinya berkali-kali; kanan dan kiri. Bahkan, saat Abdul semakin nakal dengan meremas tangannya, memeluk tubuhnya dan mencium bibirnya (meski semua itu dilakukan Abdul tak lebih dari lima detik saja), Rini hanya terpana dan sangat menikmati semuanya. Sebelum berpisah, Abdul berbisik pelan kepadanya,

“Kamu mau, kan, main ke rumahku besok sore?”

Anehnya, seperti seorang yang terhipnotis, Rini mengangguk… Maka, sore itu, dengan mengenakan gamis bercorak ceria khas remaja dengan hiasan renda bunga melati, dipadukan dengan jilbab pink yang disemati bros berbentuk kodok, juga sebuah tas jinjing dari kain kanvas, Rini duduk di sofa ruang tamu di rumah Haris.

Menunggu kekasihnya mengambilkan dua gelas jeruk dingin dan sepiring buah-buahan segar. Matanya menatap ke sekeliling ruangan dan mendapatkan kesan yang sangat menyenangkan.

Kesan itu didapat, sebagian karena bagaimanapun ini adalah rumah orang yang ia cintai, dan sebagiannya lagi karena pemiliknya memiliki cukup banyak uang untuk menata dengan demikian indahnya. Rini tak tahu banyak soal dekorasi, tapi sesungguhnya rumah itu memang didesain dengan nuansa klasik yang sesuai dengan alam pegunungan tempat rumah itu berdiri.

Perabotan, dari mulai lampu-lampu, tempat duduk, meja, lukisan-lukisan serta berbagai hal didominasi oleh corak bambu dan kayu jati asli. Sementara dedaunan dan tanaman hijau bercampur antara imitasi dan buatan menghiasi sudut-sudut yang tepat. Air terjun buatan dibangun di samping ruang tamu, dengan cahaya matahari yang hangat menyinari dari kaca jendela samping.

Wilayah itu ditutup oleh kaca bening yang dialiri air dari atas, sehingga mengesankan suasana hujan yang indah dan menimbulkan bunyi gemericik air yang terdengar menyenangkan ditambah dengan suara-suara burung murai batu, lovebird, dan cililin yang membuat suasana semakin terasa indah.

Lukisan pedesaan dipasang di satu sudut yang tepat bagi pandangan mata, dengan gaya naturalis hingga setiap detail nampak sangat jelas. Seperti sebuah foto namun memancarkan aura magis yang lebih kentara. Rini sempat terpana dengan semuanya, dengan kesejukan yang melingkupi seluruh dirinya, sampai ia tak sadar kalau Abdul telah duduk di sebelahnya, sedang menata gelas dan piring-piring.

***Cerita Dewasa***

Abdul: “Maaf, ya… Hanya seadanya saja. Habisnya Umi lagi ke Bandung ikut seminar, nemenin Abi…”

Rini tersipu malu. Ia berasal dari keluarga yang lebih sederhana, sehingga rasa mindernya muncul saat mendapati rumah yang demikian besar dan mewah ini ternyata milik pacarnya (Abdul Kohar).

Rini: “Nggak apa-apa, Dul. Justru Rini minta maaf karena udah ngerepotin kamu…”

Abdul: ”Ngerepotin? engga lah, lagian kamu kan pacar aku”

Sore itu Rini lalui dengan sangat menyenangkan. Ngobrol berdua, bercanda, tertawa, nonton film, main game PS hingga makan malam. Rini baru tahu bahwa ternyata Abdul bisa memasak. Pintar malah. Kelezatan rasanya melebihi masakan yang pernah ia buat. Dengan malu ia mengakui itu di hadapan kekasihnya, yang membalasnya dengan ciuman dipipi kanan yang lembut.

Abdul: “Aku tetep cinta kamu, kok…”

Perlu diketahui bahwa Rini saat itu berusia 16 tahun dan memiliki tubuh yang mulai matang sebagai seorang gadis. Posturnya juga tinggi dengan wajah manis yang terkesan keibuan. Tapi percayalah bahwa ia sangat polos, lebih polos dari gadis SD di kota besar yang telah mahir urusan peluk dan cium. Desa tempat ia tinggal sangat jauh dari arus informasi dan pengaruh buruk ibukota.

Maka ia tak menaruh prasangka apapun saat Abdul mengajaknya menginap di rumahnya malam itu. Memang ini urusan yang tabu di desanya, tapi kepolosan Rini membuatnya yakin bahwa Abdul tak akan melakukan hal buruk terhadapnya. Sehingga, pilihan berbohong ia lakukan agar bisa berduaan terus dengan kekasihnya itu. Ia telah bilang pada orang rumah bahwa ia akan menginap di rumah Maya.

Ia tahu orang tuanya tak akan curiga, karena hal itu biasa ia lakukan di waktu-waktu ujian sekolah. Apalagi menjelang Ujian Akhir seperti sekarang ini. Suasana malam sangat sunyi dan suara jangkrik telah berganti dengan burung malam.

Tak berapa lama rintik hujan mulai turun, dan Rini tak menyadarinya sampai hujan itu berubah jadi deras. Sangat deras, karena di musim penghujan seperti ini hal seperti itu selalu saja terjadi. Kalau tidak karena suasana cinta yang tengah meliputinya, Rini tak akan betah di rumah orang dalam situasi seperti itu.

Oh, iya… Sebetulnya Rini dan Abdul tidak benar-benar berdua di rumah, karena ada Fina, adik perempuannya Abdul yang sekarang duduk di bangku kelas 1 SMP.

Makanya Rini tidak terlalu merasa sungkan, karena ia bisa bermain dengan Fina juga di sepanjang sore dan malam itu. Abdul yang agak kerepotan karena harus meminta Fina agar berjanji tidak memberitahukan keberadaan Rini kepada orang tua mereka.

Fina sebetulnya tidak susah dibujuk. Hanya saja keberadaannya menyulitkan karena ciuman-ciuman harus dilakukan secara hati-hati. Peluk dan cium beberapa waktu yang lalu memang mendapatkan perlawanan (meski setengah hati) dari Rini. Tapi hal itu tak berlaku malam ini, karena kini Rini merasa lebih santai dan bebas.

Di satu kesempatan Abdul memeluknya sembari mencium bibirnya sekilas. Di kesempatan lain ia dipeluk dari belakang, tepatnya saat ia mencuci piring bekas makan malam dan pria itu mengendap-endap dari belakang dan begitu saja melingkarkan tangan di pinggangnya. Rini sempat menjerit pelan dan berusaha meronta, tapi tangannya yang memegang piring dipenuhi busa sabun hingga susah untuk bergerak.

Ia hanya menggelinjang pelan dan merengek lemah, saat pelukan itu makin erat dan ciuman di pipinya membuatnya terbius. Hampir saja Fina melihat perbuatan mereka, kalau Abdul tidak buru-buru melepaskan pelukan di pinggang yang ramping itu.

***Cerita Dewasa***

Setelah mandi malam yang menyenangkan, di dalam bath-tub air hangat yang penuh busa dan peralatan mandi yang lengkap milik Umi Abdul, Rini bergabung dengan kakak beradik di ruang TV.

Ia mengenakan busana malam yang lebih santai (setidaknya untuk ukuran gadis berjilbab); kemeja kaus lengan panjang putih bermotif garis warna biru dengan bawahan rok katun berwarna biru lembut, dipadukan jilbab simpel berwarna biru senada.

Parfum aroma bunga khas remaja ia seprotkan di tempat-tempat yang tepat untuk menyegarkan dirinya. Lalu ia duduk di samping Fina yang sedang tertawa menyaksikan film kartun di televisi. Mata Rini saat itu tertuju penuh ke televisi, namun pikirannya terbang ke alam tertinggi yang penuh imajinasi.

Pelukan dan ciuman hangat dari Abdul mau tak mau membangkitkan gairah terpendam yang selama ini tersembuyi jauh di dasar jiwanya. Ia mengalami semacam sensasi aneh yang baru dikenalnya, yang sangat memabukkan dan membuatnya lupa diri.

Waktu baru menunjukan pukul 20.13 malam namun kegelisahannya telah memuncak. Rini tak tahu, atau mungkin tak berani mengakui bahwa dirinya telah dipenuhi sensasi seks yang menyenangkan.

Terlebih ini adalah masa-masa suburnya. Letupan-letupan kecil yang dipicu oleh Abdul membuatnya perlahan-lahan tebawa ke arus deras, hingga sulit terbendung oleh keremajaannya yang sedang membara.

Penghalang dirinya untuk melakukan hal-hal yang lebih seronok adalah rasa malu, takut serta ketidaktahuan yang besar tentang kondisi-kondisi semacam ini. Tapi pancingan-pancingan yang dilakukan oleh abdul dengan lihai membawanya pada pengalaman-pengalaman terlarang yang sangat menggairahkan. Semuanya akibat kepolosan sang gadis remaja.

20.32 Abdul bangkit dari duduknya dan menarik tangan Rini agar mengikutinya. Fina tak sadar karena ia terfokus pada acara televisi. Rini menurut dan dadanya berdebar kencang saat Abdul menariknya ke lantai dua. Kalau Rini sedikit lebih gaul, ia akan tahu Abdul bermaksud melakukan sesuatu, tapi Rini jauh lebih polos dari yang orang kira, hingga ia justru merasa senang saat Abdul mengajaknya untuk melihat-lihat kamarnya.

Ia senang bisa tahu isi dalam kamar kekasih yang ia cintai. Rini kagum pada suasana kamar Abdul yang menyenangkan. Ia juga terkejut saat menemukan foto dirinya dalam pose separuh badan terpampang di dinding kamar.

Foto itu ditutupi Abdul oleh poster pemain bola Diego Costa, hingga tidak ada yang tahu bila setiap malam ia menarik poster itu dan memandangi foto gadis yang tersenyum manis di sana. Rini setengah lupa tentang kapan ia membuat foto itu. Ia merasa foto itu lebih cantik dari aslinya.

Tapi Abdul menjelaskan bahwa program komputer photoshop dapat melakukan banyak hal, seperti membuat gadis secantik dirinya terlihat lebih segar dan mempesona. Rini tersipu malu. Tapi itu belum seberapa, karena tiba-tiba Abdul menarik dirinya agar berhadapan muka, lalu mengeluarkan sepasang anting mutiara dari kotak beludru di saku celananya.

Cerita Dewasa

Rini terperanjat. Abdul berbisik mesra,

Abdul: “Ini pasangan kalung yang pernah kuberikan. Aku mau kamu mengenakannya…”

Mata Rini berkaca-kaca. Kalau saja ia berani, ia sudah memeluk pria di hadapannya dan menciumnya bertubi-tubi. Tapi ia terlalu malu untuk melakukan hal semacam itu. Ia hanya salah tingkah, saat Abdul meletakkan anting-anting itu di telapak tangannya dan berkata lagi,

Abdul “Aku pasangkan sekarang, ya…”

Rini: “Tapi…” (Suara Rini serak dan lirih.)

Abdul: “Tapi kenapa?”

“Rini: Aku malu…”

Abdul: “Kok malu? Bukankah kita saling mencintai?! Masihkah kita saling tertutup?”

Rini bingung untuk menjawab, karena ini adalah momen pertama dalam hidupnya ketika ia harus membuka jilbabnya di hadapan seorang laki-laki. Wanita-wanita yang biasa berbikini di kolam renang atau berpakaian seksi di Mall-mall tentu tak akan paham kenyataan ini.

Tapi Rini adalah perempuan yang sejak belasan tahun lalu selalu menutup seluruh bagian tubuhnya dan tak memamerkannya pada siapapun kecuali keluarganya. Melepas jilbab baginya sama seperti melepas rok di depan kamera bagi gadis keumuman. Aneh? Memang! Tapi itulah kenyataannya. Ia setengah menangis saat tak kuasa menolak permintaan Abdul yang menyudutkan itu.

Ia memang diam, tapi dadanya bergemuruh hebat saat jemari Abdul melepasi jarum dan peniti yang menyemati jilbabnya. Ia tertunduk dalam dan menahan nafas saat tangan kekasihnya menarik lepas jilbabnya.

Tangannya yang gemetar meremas-remas ujung kaos, dan tanpa sadar ia menggigit bibirnya sendiri saat Abdul menarik dagunya agar mereka bisa saling bertatapan serta membelai rambutnya dengan mesra; rambut yang hitam lurus sepanjang bahunya.

Abdul: “Astaga kamu cantik sekali, Rini…” Suara itu terdengar lirih, dan Rini hanya terpejam menahan semua perasaannya.

Itu adalah ekspresi terbodoh yang pernah ia lakukan, atau justru yang terbaik, karena semuanya mendorong Abdul untuk mengecup bibirnya dengan lembut. Ciuman hangat dan penuh cinta, membawa Rini terbang tinggi dan melupakan dunia ini.

“Mmmh…” Rini hanya terpejam pasrah. Tubuhnya gemetar hebat.

Tapi mulutnya terbuka lebar saat lidah Abdul mulai menjulur dan menggelitiki rongga mulutnya. Lidahnya ikut bergerak meski masih sangat kaku, saling menggelitiki untuk mendapatkan sensasi aneh yang sempurna. Tangannya begitu saja memeluk lengan Abdul yang kokoh, yang saat itu tengah melingkarkannya di pinggangnya sendiri.

Waktu seakan berhenti. Dan keduanya terpaku seperti sepasang patung. Hanya helaan nafas yang terdengar di sela-sela ciuman membara dan dipenuhi gelora asmara cinta.

Kedua tubuh itu merapat dan saling bergesekan, seakan tak dapat terpisahkan. Saling memberikan rasa hangat yang aneh dan membangkitkan seluruh saraf yang tertidur. Keduanya baru berhenti ketika nafas mulai habis dan terengah-engah kelelahan. Rini kaget dan merasa malu sekali. Mulutnya basah akibat ciuman panas itu.

Tapi ia tak dapat berbuat apa-apa selain menanti yang terjadi selanjutnya. Ia membiarkan Abdul memasang anting-anting di kedua telinganya. Ia menahan rasa geli saat jari jemari Abdul seakan menggelitik kedua telinganya, ia menurut saja ketika pria itu menuntunya ke hadapan cermin besar.

Abdul: “Lihat… Kamu tambah cantik sekali..”

Rini: melihat sekilas ke cermin, menyaksikan dirinya sendiri tanpa jilbab, dengan dihiasi anting-anting dan kalung mutiara dari kekasihnya. Ia merengek manja dan menutup muka dengan telapak tangannya.

Rini: “Aah… Abdul jahat… Rini malu…”

Abdul: “Malu sama siapa?” Mereka bercanda dengan mesra dan lebih hangat.

Ciuman tadi telah menyingkapkan tabir kekakuan yang telah terbentuk selama ini. Mereka kini lebih mirip sepasang kekasih, dengan pelukan dan ciuman hangat yang sarat nuansa cinta yang indah. Pagi itu adalah pagi terindah bagi Rini. Menghidangkan sarapan di meja makan untuk Abdul membuatnya merasa seperti seorang istri yang melayani suaminya. Abdul dan adiknya sangat puas dengan masakannya.

Cerita Dewasa

Canda tawa menghiasi makan pagi mereka yang berlangsung dengan santai. Seusai makan Fina langsung berangkat sekolah, meninggalkan sepasang sejoli yang dimabuk asmara itu tanpa kecurigaan apapun. Membiarkan keduanya menikmati hari dalam kemesraannya. Tapi, kalau kamu berpikir malam itu keduanya melakukan hubungan-hubungan khusus suami istri, percayalah bahwa kamu salah besar.

Mereka masih terlalu penakut untuk melakukan hubungan yang lebih jauh. Meskipun ciuman mereka semakin panas, aktivitas lain masih terhitung sopan karena tangan Abdul tak pernah bergerilya seperti tangan para professional.

Masih tetap pelukan sopan yang tak melibatkan rabaan ataupun sentuhan lain. Keduanya tidur terpisah dan tak ada aktivitas nakal di malam hari. Rini pulang dari rumah Abdul sekitar pukul sepuluh pagi, setelah banyak ciuman tambahan sehabis sarapan dan mandi pagi. Kepada orang rumah ia bilang sekolah pulang cepat.

Seharian ia lebih banyak mengunci diri dalam kamarnya, menikmati sensasi imajinasi yang semakin liar dibanding waktu sebelumnya. Pertemuan selanjutnya ternyata lebih lama dari yang diduga. Keduanya benar-benar tersibukkan oleh tugas-tugas sekolah, hingga baru bertemu lagi (untuk berduaan tentunya) dua minggu setelahnya. Keluarga Abdul berlibur ke rumah nenek di luar kota.

Alasan ujian membuat Abdul bisa menghindar dari paksaan orang tuanya, sehingga rumahnya bebas selama satu minggu penuh. Itulah saat yang tepat untuk bermesraan dengan Rini, dan ia telah menyiapkan banyak hal untuk pekan yang istimewa itu.

Rini datang pagi hari itu dengan mengenakan seragam sekolahnya. Perpisahan yang cukup lama ternyata membuat gadis itu lebih agresif, sehingga, meskipun tetap Abdul yang harus memulainya, Rini memberikan balasan yang sedikit liar dan nakal.

Abdul sampai megap-megap kewalahan. Sesudahnya mereka tertawa-tawa sambil berpelukan di atas sofa, sembari mata mereka menatap layar TV tanpa bermaksud menontonnya. Sekitar menjelang siang Rini dibonceng Abdul naik motor untuk main ke Mall. Setelah itu dilanjutkan bermain ke taman dan bermain sepeda air di sana.

***Cerita Dewasa***

Mereka juga melakukan banyak hal yang menyenangkan, yang membuat mereka lupa waktu. Sampai akhirnya hari pun sudah senja ketika keduanya memutuskan untuk pulang, saat langit berubah gelap dan tiba-tiba saja menjadi hujan yang sangat deras sebelum keduanya tiba di rumah. Tak sampai lima menit ketika keduanya berubah basah kuyup, dan Rini telah menggigil kedinginan saat perjalanan belum mencapai setengahnya.

Keduanya tiba di rumah saat menjelang makan malam. Oleh-oleh yang mereka beli di jalan telah basah kuyup dan tak ada satu bagianpun yang kering dari diri mereka.

Tubuh Rini menggigil hebat dan wajahnya pucat karena kedinginan, Bibirnya agak membiru. Abdul bergegas membawa gadis itu ke dalam rumah dan menyiapkan air panas di bath-tub kamar atas. Sementara menunggu gadis itu mandi, ia menyiapkan dua gelas susu coklat panas dan sekaleng biskuit. Ia sendiri langsung mandi setelah itu, dan keduanya selesai setengah jam kemudian.

Rini baru sadar bahwa ia tidak memiliki pakaian ganti, dan kebingungan sampai mengurung diri di kamar mandi. Abdul berusaha meminjamkan pakaian ibunya, tapi pakaian bersih ibunya terkunci didalam lemari.

Sementara itu pakaian Fina juga tak muat dan terlalu kecil. Untunglah Abdul ingat bahwa di kamar tamu ada pakaian-pakaian saudara sepupunya, yang biasa disimpan di sana untuk dipakai jika menginap di rumah Abdul.

“Tapi… Sepupuku tidak berjilbab. Jadi pakaiannya agak yah begitulah… Kamu coba aja deh cari yang pas. Aku tunggu di ruang TV…” Rini kebingungan sendiri di kamar tamu itu.

Ia agak risih karena semua pakaian di dalam lemari itu adalah pakaian-pakaian yang gaul, serba ketat dan serba minim. Cukup lama ia memilih dan tidak menemukan juga pakaian yang cocok untuk dirinya, sehingga ia memilih pakaian yang menurutnya agak paling sopan. Tapi tetap saja serba minim. Dengan malu ia mengenakan pakaian pilihannya dan menghampiri kekasihnya di ruang TV.

Wajah Abdul berubah kaget dan matanya bergerak kesana-kemari, mata yang biasa Rini temukan pada pria-pria nakal di pinggir jalan. Tapi Rini tahu semua ini karena dirinya, dan setengah menangis ia berusaha menutupi keterbukaan dirinya dengan kedua tangan. Bagaimana tidak Inilah pertama kalinya seumur hidup ia mengenakan pakaian minim di hadapan seorang pria, meskipun itu adalah kekasihnya juga.

Sepupu Abdul bertubuh lebih pendek dan kecil dari dirinya, sehingga kaus putih tipis bergambar bintang yang ia kenakan benar-benar melekat ketat di tubuhnya, menampakkan lekuk-lekuk yang nyata dan mempesona. Bahkan bagian pusarnya tidak betul-betul tertutupi, meskipun berkali-kali ia berusaha menarik kaus itu ke bawah. Sementara itu, celana hijau lumut selututnya juga sama ketatnya, dan tidak benar-benar selutut, karena tubuh Rini yang tinggi.

Rini sebetulnya memiliki kulit yang putih bersih dan lekuk tubuh yang indah, sehingga ia nampak cantik menawan dengan pakaian seksi itu. Terlebih rambut panjangnya masih setengah basah, menciptakan sedikit gelombang yang menambah aura kecantikannya. Tapi Rini tak terbiasa dengan hal-hal seperti itu, hingga ia merasa dirinya buruk dan norak. Ia takut Abdul meledeknya, serta jengah dengan keterbukaannya sendiri.

Abdul: “Kamu cantik sekali, Rini…” Suara Abdul terdengar bergetar, dan Rini merinding ketika pria itu malah mendekatinya dan berusaha memeluknya.

Ia berusaha menghindar dan tangannya menolak pelukan Abdul.

Rini: “Aku malu ah… Jangan, Abdul… Jangan…”

Abdul: “Lho… Kenapa?, kamu lebih cantik, seperti ini”

Rini hanya menggeleng dan Abdul berusaha menghormatinya. Mereka menghabiskan malam dengan menonton TV dan menghabiskan susu hangat di meja. Namun Rini agak lebih pendiam dan gelisah.

Tangannya terus-terusan memeluk bantal besar, berusaha menutupi apa yang ada di baliknya. Ia tak tahu bahwa pria di sebelahnya lebih gelisah lagi, meski alasannya sedikit berbeda. Ia terlalu sibuk oleh pikirannya sendiri hingga tak sadar bahwa mata Haris terus menelusuri dirinya, seolah berusaha menelanjangi.

Cerita Dewasa

Awalnya Rini tak sadar pada sentuhan itu. Berkali-kali Abdul mencium pipinya, tapi ia menganggap wajar hal tersebut. Itu hal yang biasa mereka lakukan, dan Rini menganggapnya sebagai sun sayang yang biasa ia dapatkan. Tapi Abdul kini telah melingkarkan tangan kiri melalui sandaran sofa dan mendarat di bahunya. Sedang tangan kanan diletakkan di atas lutut Rini yang terbuka.

Cuaca memang sangat dingin akibat hujan yang tidak juga berhenti, hingga elusan di lututnya terasa nyaman dan menghangatkan, membuat Rini setengah tak sadar ketika elusan itu makin merambat ke atas pahanya yang sedikit tersingkap.

Rini sangat suka nonton sinetron dan sinetron favoritnya adalah Tukang Bubur Umroh Lagi. Tapi saat ini ia sedang tidak nonton sinetron kesukaannya itu, ia saat ini sedang nonton film Titanic, Adegan dan kata-kata romantis di film itu seperti memberi hipnotis tersendiri.

Adegan ciuman memang disensor, tapi hal itu justru membuatnya tak kuasa menolak saat ciuman Abdul beralih ke bibir basahnya. Untunglah saat itu sedang iklan, hingga ciuman dari Abdul dapat diterima oleh Rini sepenuhnya, yang baru sadar bahwa posisi duduk kekasihnya sangat mengintimidasi dirinya.

Tapi ciuman itu begitu manis dan menyenangkan, memunculkan rasa hangat yang menggelora yang sangat ia rindukan. Tak perlu menunggu lama untuk membangkitkan hasrat gadis itu. Pengalaman telah mengajarkan banyak hal kepadanya, sehingga lidahnya langsung menyambut saat Abdul mulai mengajaknya bermain-main.

Bibir Rini termasuk tipis, merah dan masih alami. Namun lidahnya lincah dan pandai bergerak. Dengan daya dukung kecerdasan di atas rata-rata, ia menjadi gadis yang cepat belajar dan tahu bagaimana cara memuaskan lawan mainnya.

Abdul sendiri sangat kaget dengan kecepatan Rini dalam mempelajari teknik-tekik baru, hingga di akhir pertandingan lidah mereka, ia membiarkan sang gadis mengalahkannya hingga pipi gadis itu merona akibat agresivitasnya sendiri.

Ketika berciuman Rini lupa pada apapun. Tapi setelah selesai ia baru sadar bahwa sejak tadi tangan kanan Abdul terus-terusan membelai-belai pahanya, bergantian antara kanan dan kiri. Kini ia benar-benar merasakan rangsangan itu, rangsangan yang lebih terkesan dewasa dibanding sekedar ciuman bibir. Tangannya bertindak cepat, mencegah Abdul sesaat sebelum tangan kekasihnya itu menyentuh bagian pangkal pahanya lagi.

Abdul: “Maaf, ya… Aku kelewatan…” (Rini ikut tersenyum.)Mulut mereka terdiam dan hanya mata yang berbicara. Abdul meminta, Rini menolak halus. Tangan Abdul bergerak lagi, tapi Rini menepisnya. Abdul tersenyum manis.

Rini: “Lebih baik kita dengar musik aja, ya! Kita berdansa. Seperti di film.”

Rini diam menunggu dan manut saja pada apa yang diinginkan kekasihnya. Suara lembut mengalun dari speaker, dan tangan Abdul menjulur padanya. Rini gerogi karena ia belum pernah berdansa sebelumnya. Abdul meyakinkan bahwa ia sama tidak tahunya seperti Rini. Jadi tak usah malu karena mereka hanya berdua di sini. Dengan langkah-langkah kaku tubuh mereka bergerak pelan, saling berpelukan.

Keduanya tertawa pada gerakan masing-masing, tapi tetap merasa senang karena ciuman dimulai lagi beberapa saat sesudahnya. Tubuh Rini hampir sama tingginya dengan Abdul, hingga ia tak perlu berjinjit untuk menyambut pagutan pria itu. Ia tak tahu bahwa kecantikannya semakin membius Abdul dan keremajaannya terus memancing-mancing gairah.

Belum lagi aroma parfum menebar dari seluruh tubuhnya. Tangan Abdul tak tahan untuk tidak mengelus-elus tubuh bagusnya, bergerak dari pinggang ke arah atas. Rini masih setengah menganggap elusan itu adalah bagian dari gerakan berdansa.

Ciuman bibir Abdul membuat tubuhnya lemas, hingga elusan itu ia nikmati saja seperti halnya ciuman di bibirnya. Terasa geli saat menyentuh bagian samping dadanya.“Mmmh… Mmhhh…” Elusan tangan Abdul makin mengarah ke dada Rini, meraba-raba benda yang lunak dan empuk itu.

Gadis itu mengejang karena rasa aneh yang melandanya. Itu adalah sentuhan pertamanya, dan ia masih sangat sensitif. Tangannya secara refleks berusaha mencegah, tapi abdul yang tak mau gagal lagi berusaha menahan Rini agar tetap diam.

Ciumannya makin liar hingga Rini tak bisa mengelak. Remasan di dadanya terasa makin terasa, membuat Rini terengah-engah akibat rangsangan hebat di tubuhnya. Ia tak kuasa mencegah remasan itu, karena bagaimanapun dirinya ternyata menikmatinya.

Keduanya terengah-engah akibat ciuman yang panjang itu. Sedang muka Rini makin memerah, karena ia benar-benar terangsang oleh remasan tangan Abdul di dadanya. Payudaranya yang berisi membuat genggaman Abdul terasa penuh. Ia membiarkan dirinya terdesak ke dinding, hingga ia tidak sampai merosot jatuh saat remasan tangan Abdul makin lincah dan mempermainkan puncaknya yang masih tertutup kaus.

Ia hanya mendongak setengah terpejam dan tangannya yang bingung merapat ketat di tembok. Ia makin belingsatan karena di saat yang bersamaan ciuman Abdul mendarat di dagu dan lehernya bertubi-tubi.

Lehernya cukup panjang dan jenjang, hingga kepala Abdul dapat terbenam di sana dan memagut-magutnya seperti ular. Rini merasakan air mata mengalir lewat sudut matanya. Ia sangat kebingungan mengenali perasaannya saat ini. Remasan tangan kanan Abdul berganti menjadi ciuman bibir. Ia sempat menunduk dan hanya melihat rambut kekasihnya. Kepala Abdul terbenam di buah dadanya yang telah mengeras kencang, dan Abdul dapat mendengar kecipak-kecipuk saat Haris melahap dadanya itu dengan sedikit buas.

“Abdul… Abdul… Ohhh. Apa yang kamu lakukan??… Mmhhh… Jangan, Dull… Aahh… Emmmhh..”

Abdul telah menggulung kaus ketatnya ke atas, berusaha menyingkapkannya agar payudaranya itu lebih leluasa dinikmatinya. Abdul terus meremas-remas dengan lembut dan penuh perasaan. Menjepit dan mempermainkan putting susunya yang masih tertutup BH tipis berwarna hitam. Mungkin Abdul merasa gemas mendapati payudara yang demikian empuk dan kenyal itu, payudara perawan yang masih sangat sensitif dari sentuhan.

Keadaan Rini kini sungguh mengenaskan. Kekasihnya menyerangnya di berbagai tempat, mempermainkan dirinya seperti sebuah boneka. Bibir dan tangan kiri di payudaranya, tangan kanan di sela-sela selangkangannya. Semuanya adalah sensasi yang baru pertama kali ia rasakan. Dulu ketika ia belum pernah mengalaminya, ia selalu berjanji bahwa ia hanya akan melakukan hal ini dengan suaminya di atas ranjang pernikahan.

Dulu ketika hal ini tak pernah terbersit dalam benaknya, ia sangat yakin mampu menjaga kehormatannya. Tapi kini ketika benar-benar mengalaminya, ia tak tahu apakah ia akan tetap sekuat itu. Sentuhan-sentuhan ini terlalu nikmat bagi dirinya, dan membangunkan perasaan rindunya yang telah lama terpendam. Ia sangat bingung hingga hanya mampu meneteskan air mata dan meremas remas rambut Abdul.

“Aku sayang kamu, Rini… Mmmh… Aku sayang kamu…” Terdengar rayuan Abdul di sela-sela kesibukannya.

Rini hanya mampu menjawabnya dengan erangan-erangan aneh, karena saat itu tangan kanan Abdul telah menembus langsung ke vaginanya. Jemari Abdul mengelus-elus dan mempermainkan di tempat yang paling sensitifnya Rini, hingga Rini merasakan celananya basah oleh cairan yang tak ia kenal sebelumnya. Memang sentuhan tersebut bukanlah sentuhan langsung karena tubuh Rini masih tertutup CD tipis dan celana ketatnya. Tapi ini adalah sentuhan pertamanya, dan semuanya sudah lebih dari cukup untuk membangkitkan rangsangan dahsyat itu. Apalagi setelah beberapa lama Abdul tidak juga menghentikan aktivitasnya, melainkan mengelus dan bermain dengan lebih liar.

Vaginanya terasa seperti diaduk-aduk, hingga makin lama ia makin merasakan desakan yang aneh sangat sulit ia pahami. Ia tak dapat menahan perasaannya. Ia terus mengerang hingga desakan itu makin menuju ke arah puncak… Ia tak sanggup bertahan lagi…

“Aaahhhh… Aaahhhh… Akhhhhhhhh….” Rini menjerit panjang saat orgasme melanda tubuhnya untuk pertama kalinya.

Setelah kejadian itu ia memutuskan untuk tidak memakai jilbabnya lagi, karena ia menjadi lebih suka berpenampilan seperti halnya wanita biasa yang tidak terlalu tertutup, ia juga sadar bahwa banyak orang yang menyukainya dan memujinya lebih cocok dan lebih cantik berpenampilan tanpa jilbab.Tubuhnya mengejang kuat, melengkung seperti busur. Kakinya merapat menjepit tangan Abdul yang tak juga berhenti bergerak. Ia merasakan letupan-letupan dahsyat seperti sebuah terpaan badai. Dunia dipenuhi warna yang berpadu dengan indahnya. Malam itu Rini benar-bener dapat pelajaran yang sangat berarti untuk hidupnya.

Rini dan Abdul masih pacaran hingga saat ini dan mereka sudah kuliah di kampus yang sama, mereka sering melakukan banyak hal berdua, dugem, jalan-jalan keliling dunia, dan ter-utama ngewek. Rini merasa bahagia sekali, ia merasa seperti terlahir kembali dengan kebebasan yang ia miliki saat ini dan ia sangat menikmati hidupnya bersama Abdul sampai akhirnya mereka berdua menikah di Italy dan tinggal disana untuk selama-lamanya.

Author: 

Related Posts